inrayati.JPG
Browse this website in:
Home
Official Site
News
Links
Contact Us
News Feeds
Downloads
Admission for SD, SMP, SMA
Admission for Kindergarten
Kurikulum KTSP
Video Streaming SIB
YouTube SIB Bangkok
Daftar Buku T.P. 2019/2020
Rendahnya Mutu SDM Indonesia PDF Print E-mail
Wednesday, 02 May 2007

ImageOleh: Puti Puspa Juwita

Sebagai generasi muda, saya turut prihatin atas kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia membuat Indonesia mengalami krisis sumber daya manuasia yang potensial. Tidak meratanya pendidikan di Indonesia merupakan salah satu penyebabnya. Fasilitas pendidkan yang memadai 65% berada di pulau Jawa dan sisanya yaitu 35% di luar Jawa. Keadaan tersebut membuat pelajar-pelajar Indonesia berdatangan ke pulau Jawa dan semakin tidak berkembanglah pendidikan di luar Jawa. Sedangkan bagi mereka yang berada di luar pulau Jawa dan tidak mampu untuk datang ke Jawa tentu tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang bermutu.

Pendidikan berkualitas juga sulit sekali ditemui di Indonesia. Walaupun ada, jarang sekali sekolah yang memiliki mutu tinggi tapi biaya yang dibutuhkan murah. Tentu biaya yang diperlukan tidaklah sedikit. Memang ada sebagian golongan masyarakat Indonesia yang mampu untuk menyekolahkan anak mereka sampai jenjang tertinggi dengan kualitas yang bagus. Namun untuk masyarakat Indonesia yang berada pada tingkatan ekonomi menengah ke bawah tentunya lebih memikirkan bagaimana dia melanjutkan hidup untuk makan dan lain lain daripada membayar mahal demi mendapatkan pendidikan yang berkualitas untuk anak-anak mereka.

Bagaimana Indonesia pendidikan Indonesia mau maju jika begini keadaannya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia banyak mengalami ketertinggalan. Kualitas pendidikan di negara ini dinilai masih rendah bila dibandingkan dengan negara lain. Indonesia hanya menempati urutan 102 dari 107 negara di dunia dan urutan 41 dari 47 negara di Asia (2004). Hal ini juga disebabkan oleh kebijakkan pemerintah yang mengabaikan masalah pendidikan yang ditempatkan pada urutan ke sekian dibandingkan dengan masalah lain, sehingga kebijakan pemerintah belum terfokus pada bidang pendidikan khususnya masalah pembangungan pendidikan yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh negara untuk kemajuan Indonesia sendiri. Contoh terdekat, Malaysia. pada tahun 1970-an Malaysia masih mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia, namun kini mutu pendidikan di Malaysia berkembang pesat dan menjadi jauh lebih bagus dibandingkan dengan Indonesia. Hal tersebut terjadi karena Malaysia sangat memprioritaskan pendidikan. Berbagai universitas negeri di Indonesia pun, yang kita anggap sudah cukup baik seperti UI, UGM, ITB dan lain lain, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan universitas negeri di luar negeri. Bahkan ITB yang sangat kita banggakan ternyata masih kalah dibanding universitas negeri di Pakistan. Indonesia jadi terkesan ‘jago kandang’ jika seperti ini keadaannya.

Namun rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia bukan semata-mata hanya kesalahan pemerintah maupun sistem pendidikan saja. Melainkan dari diri para pelajar itu sendiri. Mereka yang mampu membayar mahal untuk mendapat pendidikan yang memadai malah tidak bersyukur dan tidak memiliki daya juang yang tinggi. Bahkan ada yang merasa bahwa sekolah merupakan tekanan bagi mereka. Padahal banyak sekali orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang baik di kuar sana. Kebanyakan mental pelajar Indonesia seperti menganggap mudah saja segala sesuatunya sehingga mereka merasa tidak perlu berjuang belajar keras agar bisa mendapatkan sesuatu. Sementara itu, Rektor UPI, Prof. Dr. M. Fakry Gaffar mengatakan, universitas atau perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk ”bertarung” dalam persaingan global. Karena itu, produk pendidikan negara ini masih kesulitan untuk bersaing dengan produk pendidikan negara lain. Namun, rendahnya kualitas itu tidak semata-mata karena sistem pendidikannya. Siswa atau mahasiswa Indonesia pun kurang memiliki upaya dan daya juang. ”Kalau ditanya berapa jam mahasiswa Indonesia belajar dalam satu hari, mereka akan menjawab antara 1-2 jam/hari. Sedangkan di Eropa, Amerika atau Malaysia, rata-rata mahasiswanya belajar antara 6-12 jam/hari,” ujarnya.

Saya sebagai pelajar dan juga generasi penerus bangsa, tentunya sangat memperhatikan masalah seperti ini. Semoga pemerintah dapat memperbaiki kebijakan pemerintah menjadi lebih fokus terhadap masalah pembangunan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia serta masalah biaya pendidikan di Indonesia yang mahal dan bahkan hamper tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat Indonesia bias mendapatkan subsidi yang lebih. Juga untuk para pelajar. Marilah kita berjuang demi masa depan bangsa ini!

 
< Prev   Next >