ida.JPG
Browse this website in:
Home
Official Site
News
Links
Contact Us
News Feeds
Downloads
Admission for SD, SMP, SMA
Admission for Kindergarten
Kurikulum KTSP
Video Streaming SIB
YouTube SIB Bangkok
Daftar Buku T.P. 2019/2020
Oh... Pendidikan PDF Print E-mail
Wednesday, 02 May 2007
ImageOleh: Resti Widya Putri (Diaz) (XI SMA IPA)

Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa kita sebut dengan HARDIKNAS selalu diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya, dimana tidak sedikit sekolah-sekolah yang ikut serta meramaikannya dengan mengadakan upacara-upacara dengan tema “pendidikan” dengan tujuan untuk lebih mengenalkan kepada siswa-siswinya tentang pentingnya pendidikan yang harus mereka peroleh. Seperti dikutip dari “depdiknas.go.id” Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan nasional berkata :

“Kalau sudah disediakan sekolah yang cukup, program Paket A dan B sudah sediakan, tetapi orang tidak mau sekolah padahal itu wajib menurut undang-undang dan undang-undang dasar, ya harus dikelola. Keluarkan peraturan daerah, disangsi orang tuanya. Bupati memiliki kewenangan itu,” Bambang mengatakan untuk menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) sembilan tahun jangan hanya dilihat dari sisi tersedianya pendidikan saja, tetapi bagaimana mengelola masyarakat wajib belajarnya. Kewajiban pemerintah, menurut dia, adalah memberikan kapasitas pendidikan yang mencukupi, seperti membangun unit sekolah baru (USB), ruang kelas baru (RKB), dan Pendidikan Paket A dan B. ”Yang mempunyai akses secara langsung terhadap masyarakat peserta wajib belajar adalah pemerintah kabupaten/kota,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang menyampaikan pendidikan adalah hak azazi, dan pemerintah berusaha memenuhi sebagai kewajibannya. Akan tetapi, kata dia, ketika masyarakat menyepelekan begitu saja, padahal itu (pendidikan) untuk kemaslahatan mereka sendiri. ”Minimal mereka harus ikut Paket A dan B,” Bambang menargetkan penuntasan wajar akan selesai pada 2008, sedangkan angka buta aksara turun sampai lima persen pada 2009. ”Tujuh tahun lebih cepat dari target dunia untuk buta aksara, sedangkan wajar-nya delapan tahun lebih cepat,”

Pendidikan memang hak asasi setiap warga Negara namun,permasalahannya bukanlah dari warganya saja yang menyepelekan arti dari pendidikan tersebut. Banyak sekolah-sekolah diIndonesia yang memanfaatkan arti pendidikan tersebut sebagai ajang komersial. Walau telah kita ketahui pemerintah telah menjalankan program  pemberian bantuan operasional sekolah (BOS) tunai, dan BOS buku bagi SMP/MTs/Sederajat di seluruh Indonesia namun, masih banyak sekolah-sekolah yang masih meminta pungutan bayaran “ini itu” dengan berbagai macam alasan. Tentu bagi orangtua murid yang mempunyai “dana” yang cukup hal itu tidaklah terlalu sulit, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah “bagaimana dengan orangtua murid yang tidak mempunyai “dana” yang mencukupi?” hal inilah yang menjadi salah satu pemicu atau faktor tersendatnya pendidikan di Indonesia.

 Tetapi tidak hanya sekolah-sekolah “komersil” saja yang menjadi faktor kendala bagi terputusnya pendidikan seseorang, orangtua juga merupakan salah satu kendalanya. Tidak sedikit orangtua-orangtua yang memutuskan pendidikan anaknya dikarenakan ketertarikan mereka terhadap “lowongan pekerjaan” yang semraut,mereka tidak peduli baik tidaknya pekerjaan tersebut dilakukan yang mereka pikirkan adalah “untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau sudah bisa baca tulis dan bisa nyari duit?”. Pemikiran-pemikiran kuno tersebutlah yang masih ada sampai sekarang ini dimana orangtua-orangtua tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya hanya lantaran uang yang menjadi kebutuhan utama dalam hidup namun sebenarnya tanpa disadari ataupun sudah disadari pendidikan sangatlah penting,semakin pintar seseorang bukankah semakin mudah dia memperoleh penghasilan hidup.

Tidak hanya kepintaran-kepintaran saja yang dibutuhkan dunia pekerjaan saat ini, keterampilan, keuletan, dan semangat juga dibutuhkan dan sangat dipertimbangkan pada uji seleksi lowongan pekerjaan. Maka dari itu pendidikan biar bagaimanapun sedikit apapun dan sesederhana apapun sangatlah penting bagi kehidupan. Kaum muda adalah pencetus bangsa kalimat itu yang biasa kita dengar namun kalau masih terdapat pemikiran-pemikiran yang jauh mundur kebelakang seperti “untuk apa sekolah kalau sudah bisa nyari duit” “perempuan mah enggak usah sekolah nanti juga kerjanya didapur” maka dapat diperkirakan masa depan bangsa akan jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang maju.

Maka dari itu, rubahlah pemikiran-pemikiran kuno yang merugikan diri sendiri tersebut. Memperoleh pendidikan tidak harus pergi kesekolah setiap harinya, pendidikan ada dimana-mana,pendidikan murah tidak harus mengeluarkan biaya yang relatife mahal. Bukankah pemerintah daerah/kabupaten telah menyediakan perpustakaan berjalan. Di Jakarta kita dapat belajar di perpustakaan nasional atau perpustakaan-perpustakaan kecil lainnya yang mungkin hanya dikenakan biaya Rp1000.- kalau ingin meminjam. Hal ini lah yang jarang dilakukan oleh anak-anak muda zaman sekarang mereka hanya mendesak turunkan biaya pendidikan namun tanpa disadari mereka dapat memperoleh pendidikan bermutu disekeliling atau disekitar mereka tanpa mengeluarkan banyak biaya.

  

Resty Widya Putri (Diaz)

                                                                                              II SMA

 
< Prev   Next >