Pendidikan itu kebutuhan primer
Thursday, 03 May 2007

ImageOleh: Amalia Prima Putri (XI SMA IPA) 

Pada era globalisasi ini pendidikan amatlah penting bagi kita karena seiring berjalannya waktu, persaingan akan semakin ketat lagi. Jika kita tidak mempersiapkan diri sejak sekarang mungkin di masa depan kita akan terdepak dan kalah bersaing dengan cepatnya arus globalisasi. Pendidikan di Indonesia sangatlah menyedihkan bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Padahal Indonesia adalah salah satu negara di Asia Tenggara yang sudah lama merdeka, logisnya Indonesia harusnya lebih maju dibandingkan negara-negara sekitarnya. Namun, kenyataannya tidak. Indonesia tidak dapat bersaing dengan Negara-negara lain di berbagai bidang. Indonesia berada pada posisi 111 dari 175 negara dalam indeks perkembangan sumber daya manusia (SDM). Bahkan, untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan paling rendah. Faktor yang dijadikan penilaian yakni dari tingkat ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Menurut survey, tiap tahunnya ada satu juta anak putus sekolah. Jika anak-anak tersebut putus sekolah di kelas 1, 2, atau 3 SD maka angka buta huruf di Indonesia pun menjadi sangat tinggi. Tercatat sekarang angka buta huruf Indonesia adalah urutan yang tertinggi di Asia Tenggara yaitu 18.6 juta jiwa. Masalah pendidikan di Indonesia sangatlah dilematis. Pemerintah memang menyediakan subsidi cukup besar untuk pendidikan. Namun, subsidi itu terkadang suka diselewengkan oleh pihak-pihak yang tidak tahu diuntung. Kembali lagi pada pendidikan, bagaimanakah masih ada pihak-pihak seperti itu padahal mereka juga mengeyam pendidikan di sekolah? Lalu sekarang sekolah menjadi suatu lembaga yang disfungsional karena tidak dapat menghasilkan kader-kader yang bermutu dan jujur. Indonesia bukan Negara yang bodoh, karena memang masih ada orang-orang yang mengharumkan nama Indonesia ke ajang olimpiade dan kompetisi-kompetisi sains lainnya, tetapi itu hanya sekitar 3% orang dari 200 juta penduduk Indonesia. Di ibu kota memang banyak sekali sekolah-sekolah favorit yang menghasilkan anak-anak berpretasi dan pada akhirnya mereka masuk ke perguruan tinggi kenamaan juga. Akan tetapi, apakah prestasi itu juga dibarengi dengan moral yang baik? Kasus IPDN yang telah memakan korban akibat kekerasan yang terjadi di kampus menjelaskan dengan gambling bahwa tidak ada ketegasan pada rector-rektor untuk menangani hal itu. Hal itu saya yakin bukan kali pertamanya terjadi namun sudah lama terjadi. Baru terkuak sekarang karena baru ada korban. Bagaimana bias lembaga pendidikan milik pemerintah justru menerapkan kekerasan? Tidak heran jika pemimpin-pemimpin sekarang menjadi serakah dan tidak bermoral. Kebanyakan sekarang lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia hanya mementingkan materi dan prestasi. Pendidikan moral sudah dianggapnya bukan merupakan suatu hal yang wajib. Pendidikan moral juga dapat diperoleh dari keluarga tapi tidak semua orang tua memiliki waktu luang untuk hal tersebut. Para orang tua justru sangat mempercayai lembaga sekolah sepenuhnya dengan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah favorit padahal sekolah favorit tidak menjamin.Seperti yang kita tahu kebutuhan primer terdiri dari sandang, pangan, dan papan. Pendidikan di kategorikan dalam kebutuh sekunder. Tentu teman-teman pernah mempelajarinya di SMP. bukan? Lalu, faktor-faktor apa saja yang mendukung kebutuhan primer agar dapat terpenuhi? Jawabannya adalah pendidikan karena untuk memenuhi itu semua orang harus mendapatkannya dengan uang. Uang kita dapat dari suatu pekerjaan dan pekerjaan dapat di dapat jika kita memliki ketrampilan dan keahlian yang kita peroleh dari lembaga sekolah formal maupun informal. Walaupun masalah pendidikan di Indonesia sangat susah untuk dipecahakan dalam waktu singkat, namun kita sebagai generasi penerus bangsa dapat memulainya sejak sekarang. Untuk memaknai Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini tanggal 2 Mei 2007 kita dapat memulai membantu bangsa  dengan belajar lebih giat dan tekun. Tentunya di kamus teman-teman, seharusnya pendidkan sudah merupakan kebutuhan primer bukan sekunder lagi. Pendidkan merupakan jembatan menuju masa depan. Sekarang adalah waktu bagi kita untuk membangun jembatan yang  kokoh dan mulus sehingga jembatan itu tidak akan roboh bila kita lewati nanti.                                                                                         Amalia Prima Putri                                                                                       II SMA IPA SIB